Ketakutan Berlebih Jadi Gemuk?

Sep 17, 2020

0
Ketakutan Berlebih Jadi Gemuk?

Ketakutan Berlebih Jadi Gemuk?

Ketakutan Berlebih Jadi Gemuk?

Ketakutan Berlebih Jadi Gemuk? – Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan jika berat badan bertambah dan gangguan persepsi pada bentuk tubuh.

Dilansir dari laman http://utowndc.com, Memiliki tubuh ideal memang impian hampir semua orang, khususnya perempuan. Namun, bagaimana jadinya keinginan tersebut menjadi sebuah obsesi? Mari mengenali gangguan makan ini lebih lanjut lewat penjelasan berikut ini.

1. Apa itu anoreksia nervosa?

Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang membuat seseorang sangat ketakutan untuk memiliki berat badan berlebih, bahkan ketika indeks masa tubuhnya di bawah rata-rata, sehingga menyebabkan berat badan di bawah normal.

Gangguan makan ini bisa dialami baik perempuan maupun laki-laki. Namun, perempuan memang dilaporkan lebih banyak mengalaminya.

Umumnya, seseorang dengan anoreksia nervosa akan merasa lebih tenang ketika berat badannya turun. Berbagai cara akan dilakukan agar berat badannya tidak naik.

Tak hanya benar-benar memperhatikan kalori yang masuk, mereka juga akan olahraga gila-gilaan. Dilansir Medical News Today, gangguan makan ini dilaporkan memiliki angka kematian yang lebih tinggi daripada semua gangguan mental.

2. Kenapa seseorang mengalami anoreksia nervosa?

Orang-orang dengan anoreksia nervosa cenderung memiliki citra diri yang buruk. Umumnya ini terjadi karena mereka terlalu terobsesi untuk tampak sempurna.

Hingga kini, penyebab pasti anoreksia nervosa masih belum diketahui. Namun, dilansir Healthline, ada beberapa faktor yang berkontribusi: faktor lingkungan, biologis dan genetik, dan psikologis.

Dari faktor lingkungan, hentikan kebiasaan mengomentari tubuh, spesifiknya berat badan seseorang. Misalnya, “kok gemukan sih? dan sebagainya. Disadari atau tidak, kebiasaan ini bisa membuat orang yang dikomentari merasa tertekan dan berisiko berkembang menjadi anoreksia nervosa.

Hal tersebut terbukti dari penelitian dari American Family Physician tahun 2003 yang menggambarkan bahwa pengidap anoreksia nervosa membatasi asupan kalori secara ekstrem dan/atau olahraga berlebih guna mengendalikan kebutuhan emosional atau rasa sakitnya.

Kedua adalah faktor biologis dan genetik. Berbagai bukti telah menunjukan adanya hubungan antara anoreksia nervosa dengan serotonin, bahan kimia otak yang bertanggung jawab atas rasa lapar, nafsu makan, hingga pencernaan. Sebuah studi dalam The Journal of Clinical Psychiatry tahun 1991 menunjukan adanya gangguan serotonin pada orang-orang dengan anoreksia nervosa akut.

Faktor genetik juga turut memengaruhi. Ini terbukti lewat penelitian dalam jurnal PLoS One tahun 2016 menyebut bahwa faktor genetik memengaruhi seseorang mengalami anoreksia nervosa, diabetes tipe 2, dan penyakit seliak. Dilansir Medical News Today , perkiraan persentase untuk seseorang mengalami gangguan makan ini adalah 50-80 persen.

Dari faktor psikologis, dikatakan bahwa orang-orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) cenderung melakukan diet ketat atau olahraga selayaknya pada anoreksia nervosa. Hal ini bisa terjadi mengingat orang-orang dengan OCD rentan pada obsesi dan kompulsi.

Selain OCD, gangguan suasana hati seperti depresi dan gangguan kecemasan seperti fobia sosial juga ikut berkontribusi terhadap anoreksia nervosa dalam beberapa kasus.

3. Gejala anoreksia nervosa

Gangguan makan anoreksia nervosa merupakan keadaan yang kompleks. Namun, gejala utamanya adalah penurunan berat badan secara drastis.

Berdasarkan informasi dari WebMD, gejala pada orang-orang dengan anoreksia nervosa mungkin akan sulit diketahui. Sebab, setiap penderita memiliki pandangan yang berbeda tentang berat badan ideal versi mereka. Apalagi, mungkin beberapa penderita tampak tidak terlalu kurus.

Gejalanya pada fisik antara lain:

  • Penurunan berat badan secara ekstrem
  • Berkurangnya massa otot secara drastis
  • Lesu atau lemas
  • Hipotensi
  • Pusing
  • Suhu tubuh rendah
  • Kembung atau sembelit
  • Kulit kering
  • Bengkak pada tangan dan kaki
  • Rambut rontok
  • Menstruasi tak teratur
  • Insomnia

Sementara itu, gejala psikis yang bisa timbul meliputi:

  • Ketakutan berlebih untuk gemuk
  • Sering mengukur atau menimbang serta bercermin untuk memeriksa tubuh
  • Olahraga berlebihan
  • Menolak makanan
  • Mudah marah
  • Berkurangnya gairah seks
  • Merasa bersalah setelah makan
  • Gangguan ingatan

Kalau kamu merasakan beberapa gejala di atas, sebaiknya cari bantuan dokter, ahli gizi, atau profesional lainnya seperti psikolog agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

4. Bagaimana diagnosisnya?

Nantinya, dokter akan memeriksa detak jantung dan tekanan darah. Dokter juga bisa memberi rujukan ke psikolog atau psikiater untuk pemeriksaan kondisi psikis.

Menurut panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi 5 (DSM-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, ada kriteria yang harus dipenuhi dalam diagnosis anoreksia nervosa, yakni:

  • Pembatasan asupan energi yang mengakibatkan berat badan sangat rendah yang tak sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan
  • Takut menjadi gemuk
  • Memiliki pandangan menyimpang terhadap diri dan kondisi mereka

Di samping itu, dokter mungkin juga akan memeriksa kadar elektrolit, fungsi hati dan ginjal, kepadatan tulang, serta ada atau tidaknya kelainan jantung.

Untuk memastikan kondisi psikis, dokter atau psikolog atau psikiater akan menanyakan tentang perasaan, pikiran, dan kebiasaan makan. Pasien juga biasanya akan diminta untuk mengisi kuesioner agar bisa memberi penilaian.

Sayangnya, menegakkan diagnosis bukan perkara mudah. Bahkan, kadang butuh waktu hingga bertahun-tahun karena pasien tidak terbuka akan diri mereka, apalagi bila sebelumnya mengalami obesitas.

Jika dokter mendeteksi adanya gejala, serangkaian tes mungkin akan dilakukan untuk mencari penyebab lain berkurangnya berat badan. Misalnya karena penyakit seliak, radang usus, diabetes, kanker, dan sebagainya.

Di samping itu, menurut keterangan dari National Eating Disorders Association, meski tidak ditemukan adanya kriteria yang disebutkan tadi, seseorang tetap bisa mengalami gangguan makan serius.

5. Komplikasi

Anoreksia nervosa rupanya dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Paling fatal, gangguan makan tersebut dapat menyebabkan kematian mendadak meski tubuh tidak terlalu kurus.

Diperkirakan, komplikasi fatal tersebut bisa terjadi akibat aritmia (detak jantung abnormal) atau terganggunya keseimbangan elektrolit seperti natrium, kalium dan kalsium.

Lebih lengkapnya, berikut ini adalah beberapa komplikasi fisik akibat anoreksia nervosa:

  • Anemia
  • Masalah jantung
  • Osteoporosis
  • Gangguan siklus haid
  • Penurunan hormon testosteron pada laki-laki
  • Gangguan gastrointestinal (sembelit, kembung, dan lain-lain)
  • Kelainan elektrolit

Parahnya lagi, jika pengidap anoreksia nervosa mengalami malnutrisi parah, ini bisa menyebabkan kerusakan organ, termasuk otak, jantung, dan ginjal. Bahkan, kadang kondisi tersebut tak bisa sepenuhnya diperbaiki meski gangguan makan tersebut sudah terkendali.

Tak hanya menyebabkan komplikasi pada fisik, gangguan makan ini juga menyebabkan pengidapnya mengalami gangguan kesehatan mental, seperti:

  • Depresi
  • Cemas dan gangguan suasana hati lainnya
  • Gangguan kepribadian
  • OCD
  • Penyalahgunaan zat atau alkohol
  • Melukai diri sendiri
***
Itulah gambaran kondisi gangguan makan anoreksia nervosa. Bila kamu merasa mengalaminya, atau mengenal seseorang dengan gejala yang telah dipaparkan sebelumnya, sebaiknya segera ditangani agar tidak menyebabkan komplikasi berbahaya.